dua keinginan -Khalil GIbran-
April 8th, 2008 by the-cute-windDi keheningan malam, Sang
Maut turun atas hadrat Tuhan menuju ke bumi. Ia terbang melayang-layang di atas
sebuah kota dan mengamati seluruh penghuni dengan tatapan matanya. Ia
menyaksikan jiwa-jiwa yang melayang-layang dengan sayap-sayap mereka, dan
orang-orang yang terlena di dalam kekuasaan Sang Lelap.
Ketika rembulan tersungkur di
kaki langit, dan kota itu berubah warna menjadi hitam kepekatan, Sang Maut
berjalan dengan langkah tenang di celah-celah kediaman - berhati-hati tidak
menyentuh apa-apa pun - sehingga tiba di sebuah istana. Ia masuk melalui pagar
besi berpaku tanpa sebarang halangan dan berdiri di sisi sebuah ranjang , dan
tika ia? menyentuh dahi? si lena, lelaki itu membuka kelopak matanya dan
memandang dengan penuh ketakutan.
Melihat bayangan Sang Maut di
hadapannya, dia menjerit dengan suara ketakutan bercampur aduk kemarahan,
“Pergilah kau dariku, mimpi yang mengerikan! Pergilah engkau makhluk jahat!
Siapakah engkau ini? Dan bagaimana mungkin kau memasuki istana ini? Apa yang
kau inginkan? Tinggalkan rumah ini dengan segera! Ingatlah, akulah tuan rumah
ini. Nyahlah kau, kalau tidak, kupanggil para hamba suruhanku dan para
pengawalku? untuk mencincangmu menjadi kepingan!”
Kemudian Maut berkata dengan
suara lembut, tapi sangat menakutkan, “Akulah kematian, berdiri dan tunduklah
padaku.”
Dan si lelaki? itu menjawab,
“Apa yang kau inginkan dariku sekarang, dan benda apa yang kau cari? Kenapa kau
datang ketika urusanku belum selesai? Apa yang kau inginkan dari orang kaya
berkuasa seperti aku? Pergilah sana, carilah orang-orang yang lemah, dan
ambillah dia! Aku ngeri melihat taring-taringmu yang berdarah dan wajahmu yang
bengis, dan mataku sakit menatap sayap-sayapmu yang menjijikkan dan tubuhmu
yang meloyakan.”
Namun selepas tersedar, dia
menambah dengan ketakutan, “Tidak, tidak, Maut yang pengampun, jangan pedulikan
apa yang telah kukatakan, kerana rasa takut membuat diriku mengucapkan kata-kata
yang sesungguhnya terlarang. Maka ambillah longgokan emasku semahumu atau nyawa
salah seorang dari hamba-hambaku, dan tinggalkanlah diriku… Aku masih mempunyai urusan kehidupan
yang belum selesai dan berhutang emas dengan orang. Di atas laut aku memiliki
kapal yang belum kembali ke pelabuhan, permintaanku..jangan ambil nyawaku… Ambillah olehmu barang yang kau
inginkan dan tinggalkanlah daku. Aku punya perempuan simpanan yang? luarbiasa
cantiknya untuk kau pilih, Kematian. Dengarlah lagi : Aku punya seorang
putera tunggal yang kusayangi, dialah sumber kegembiraan hidupku. Kutawarkan
dia juga sebagai galang ganti, tapi nyawaku jangan kau cabut dan tinggalkan
diriku sendirian.”
Sang Maut itu
mengeruh,”Engkau tidak kaya tapi orang miskin yang tak sedar diri.”? Kemudian
Maut mengambil tangan orang hina itu, mencabut nyawanya, dan memberikannya
kepada para malaikat di langit untuk menghukumnya.
Dan Maut berjalan perlahan di
antara setinggan orang-orang miskin hingga ia mencapai rumah paling daif yang
ia temukan. Ia masuk dan mendekati ranjang di mana tidur seorang pemuda dengan
kelelapan yang damai. Maut menyentuh matanya, anak muda itu pun terjaga. Dan
ketika melihat Sang Maut berdiri di sampingnya, ia berkata dengan suara penuh
cinta dan harapan, “Aku di sini, wahai Sang Maut yang cantik. Sambutlah rohku,
kerana kaulah harapan impianku. Peluklah diriku, kekasih jiwaku, kerana kau
sangat penyayang dan tak kan meninggalkan diriku di sini. Kaulah utusan Ilahi,
kaulah tangan kanan kebenaran. Bawalah daku pada Ilahi. Jangan tinggalkan daku
di sini.”
“Aku telah memanggil dan
merayumu berulang kali, namun kau tak jua datang. Tapi kini kau telah mendengar
suaraku, kerana itu jangan kecewakan cintaku dengan menjauhi diri. Peluklah
rohku, Sang Maut yang dikasihi.”
Kemudian Sang Maut meletakkan
jari-jari lembutnya ke atas bibir yang bergetar itu, mencabut nyawanya, dan
menaruh roh itu di bawah perlindungan sayap-sayapnya.
Ketika ia naik kembali ke
langit, Maut menoleh ke belakang — ke dunia - dan dalam bisikan amaran
ia berkata,
“Hanya mereka? di dunia yang? mencari Keabadianlah yang sampai ke Keabadian
itu.”